Tweet dari Trump yang Semakin Memanaskan Hubungan dengan China – Hubungan Amerika Serikat dengan China semakin memanas sejak perkembangan pandemi Covid-19 ini, terutama setelah Amerika Serikat mencatatkan angka korban positif corona yang sangat besar. Pekan lalu, Presiden Donald Trump kembali mengemukakan pernyataan kontroversial yang berisi kecaman terhadap China. Presiden Trump dengan tegas menyalahkan China atas wabah ini, dan bahkan Trump menyebut ini sebagai suatu pembunuhan massal.
Dalam salah tweet yang dia sampaikan di Twitter, Trump melayangkan kritik pedas pada China. Dia menyebutkan bahwa terjadinya pembunuhan massal karena pademi virus corona ini merupakan bentuk ketidakmampuan China dalam mengatasi masalah ini hingga akhirnya tersebar ke berbagai negara di seluruh dunia.
Virus Corona ini memang bermula dari China, khususnya di daerah Wuhan. Kasus pertama ditemukan di daerah ini pada bulan Desember tahun lalu, dan kemudian menyebar dengan sangat cepat ke berbagai negara. Karena wabah ini, ribuan orang telah meninggal dan menyebabkan berbagai kerusakan di berbagai sektor, terutama di sektor kesehatan dan ekonomi.
Awalnya, Trump memang tidak terlalu memandang serius wabah ini dan menyatakan bahwa China sedang berupaya untuk mengatasi pandemi ini. Namun, kondisi mulai berubah ketika Amerika Serikat mencatatkan angka yang sangat besar terkait penduduk yang telah positif terinveksi virus ini. Bahkan, Trump juga mengancam WHO untuk menghentikan bantuannya pada organisasi kesehatan dunia ini karena dia menilai WHO terlalu condong dan memihak China dalam perkembangan pandemi Covid-19 ini. Sebagaimana yang dituliskan dalam New York Times, Presiden Trump menilai WHO tidak cukup kompeten dalam menangani pandemi ini dengan baik yang kemudian menyebabkan penyebaran yang sangat massif.
Tentunya, pernyataan Trump untuk meghentikan bantuan pada WHO ini membuat guncangan yang cukup besar. Hal ini karena Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang memberikan bantuan terbesar pada organisasi ini. Dengan tidak adanya bantuan dari Amerika Serikat, tentu WHO akan kesulitan dalam beroperasi dan melakukan penanganan terhadap virus corona ini.
Melalui tweet-nya Trump juga mengatakan bahwa dia telah mengerahkan anggota militer untuk melakukan kontrol dan upaya pencegahan penularan Covid-19 ini. Setidaknya, telah ada 3000 anggota militer yang telah dikirim ke berbagai daerah yang terdampak virus ini. Selain itu, tenaga kesehatan juga telah dikirimkan untuk menekan angka persebarannya. Secara khusus, New York juga menjadi perhatian utama karena daeah ini menjadi area dengan angka positif corona yang sangat besar di Amerika Serikat. Pengiriman anggota militer dan tenaga kesehatan ke daerah terdampak juga didukung pertanyaan dari Mark Esper, Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Dalam tweet lainnya, Trump juga mengakui bahwa dia beserta pemerintah mengalami kesulitan dalam mengendalikan dan menekan persebaran virus ini. Angka kasus positif dan kematian pun terus bertambah, dan Trump memprediksi bahwa beberapa minggu ke depan menjadi waktu yang berat untuk Amerika Serikat.
Terkait perkembangan pandemi virus corona di Amerika Serikat, saat ini gedung konvensi Jacob Javits Center juga telah dijadikan sebagai rumah sakit darurat. Gedung konvensi yang berada di New York City ini mampu menampung sekitar 2.500 pasien, sehingga bisa menjadi bantuan yang diperlukan dalam penanganan wabah pandemi ini. Hingga saat ini, korban meninggal di New York sangatlah besar, sehingga adanya rumah sakit darurat ini sangatlah vital. Menteri Pertahanan Merk Esper pun mengatakan bahwa rumah sakit darurat ini bisa menjadi salah satu rumah sakit terbesar di Amerika Serikat dan dikelola oleh militer.